Salah satu bentuk rumah dengan struktur bangunan kayu, lebih modern.
Sumber. komunikata, Foto: komunikata.com

komunikata.com Flores yang kaya akan budaya, tradisi dan sejarah, seperti yang kita lihat hari ini adalah bentuk adaptasi yang alami sejak zaman purba. Ketika mengunjungi Flores, melihat rumah kayu yang kokoh dan berusia hampir puluhan hingga ratusan tahun adalah hal yang biasa oleh masyarakat di sana. Rumah kayu bukan simbol kemiskinan yang pada umumnya orang kenal, rumah kayu memiliki landasan filosofis dan historis yang panjang dalam peradaban Flores. Seiring berjalannya waktu, rumah kayu kemudian dimodifikasi sedemikian rupa agar sejalan dengan perkembangan zaman. Di era modern sudah jarang terlihat keberadaan rumah kayu sebagai tempat hunian, sehingga paling sering kita melihat rumah kayu hanya sebagai rumah adat saja, bentuk dan materialnya masih sama sejak dulu. Alasan-alasan yang melatar belakangi perubahan itu tentu juga lahir dari pengalaman empiris masyarakat, bahwa rumah kayu mudah terbakar, mudah lapuk apalagi curah hujan di Flores cukup tinggi pada suatu musim. Perkembangan zaman, perubahan cara pandang akan kemajuan dan penilaian terhadap status sosial turut ambil andil dalam perubahan tersebut, kehadiran rumah batu sebagai alternatif bangunan yang dianggap kokoh, permanen, paling sering dianggap sebagai simbol keberhasilan dan mungkin sebagian orang menganggapnya kemewahan. 

Terlepas dari semua alasan-alasan tersebut, bumi tetap punya kendali atas apa yang berpijak diatasanya. Flores menjadi salah satu wilayah yang paling aktif secara tektonik di Indonesia, kondisi geologis yang kompleks ini membuat flores memiliki tingkat kerawanan yang sangat tinggi terhadap gempa bumi merusak dan tsunami (fpips.upi). Nenek moyang orang Flores memahami betul secara naluriah dan berdasarkan latar belakang historis bahwa kondisi geologis ini perlu dimitigasi dengan adaptasi alami dan mampu meminimalisir resiko dari akibat kondisi geologis yang kompleks tersebut. Oleh karenanya, sebagai mitigasi bencana berbasis kearifan lokal (indigenios knowledge), maka bangunan berbahan dasar kayu dan bambu adalah solusi yang tepat, alasan memilihnya bukan karena keterbatasan bahan alami, tetapi resiko cedera saat terjadi gempa bisa dimimalisir karena kelunakan bahan tersebut. Jika kita melihat lebih dalam struktur dari bangunan kayu tersebut, bisa dibilang sangat bersahabat dengan kondisi geologis wilayah Flores (misalnya saat terjadi gempa), bangunan mustahil untuk roboh disebabkan karena dalam sistem persambungannya yang menggunakan pasak, akan mengikuti arah guncangan yang terjadi/tidak kaku. 

Berdasarkan rilis resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Gempa M7,7 yang mengguncang wilyah Flores 15 agustus lalu menyebabkan kehancuran yang luar biasa dan menewaskan banyak orang. Korban jiwa terbanyak karena reruntuhan bangunan, fakta ini menunjukkan bahwa, betapa pentingnya pemahaman terhadap kondisi geologis yang rawan akan gempa. Pilihan material kayu dan bambu kini bukan lagi sekedar arsitektur saja, tetapi sebagai salah satu instrumen penting penyelamat jiwa.
"Earthquakes don't kill people, buildings do" Lekas pulih Floresku.